Merapi sudah tidak bisa diprediksi lagi. Kemarahannya memorak-porandakan apa dan siapa pun yang berada di dekatnya. Masyarakat dibuatnya panik. Rumah-rumah dan pepohonan rusak. Hujan pasir dan debu vulkanik terjadi di pemukiman penduduk sekitar. Di mana-mana tersapu dengan pemandangan yang serba putih yang tak lain adalah debu. Dalam situasi ini tak dapat terlihat lagi pepohonan dan pemandangan yang hijau dan sejuk. Yang ada hanyalah lautan debu dan semua makhluk hidup menghirup udara kotor penyebab infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Sementara itu, tampak wajah-wajah penuh penantian untuk terus berharap kapan bencana letusan Merapi ini akan berakhir. Pun mereka yang seolah-olah tak berpengharapan karena rumah dan ternak yang mereka miliki hancur dan mati. Wajah-wajah letih, sedih, dan kalut merupakan pemandangan yang akhir-akhir ini (sejak 5/11 dini hari) dijumpai di tempat-tempat pengungsian termasuk di Jalan Kolombo 19A. Hati terasa miris bila mendengar cerita dari para pengungsi. Mereka datang dan pergi mencari tempat berteduh, bahkan sejak Merapi meletus pada Selasa (26/10) yang lalu, masyarakat di sekitar Lereng Marapi sudah 3-4 kali berpindah-pindah tempat untuk mengungsi.

Sementara itu, Kongregasi CB berupaya untuk menampung saudara-saudari yang sedang berkesusahan ini dengan tulus dan tangan terbuka. Bekerjasama dengan para relawan, para suster memberikan berbagai macam kegiatan. Kegiatan tersebut yakni penyegaran rohani setiap pukul 19.00 WIB. Untuk mereka yang muslim didampingi oleh Ustad Suwardi. Sedangkan yang Kristen dan Katolik diadakan ibadat bersama oleh romo, para suster, dan frater secara bergantian. Bahkan Romo Paroki Pakem, Saji Pr, berkenan merayakan Ekaristi di aula Panti Bina Provinsialat(lantai 2).

Kegiatan lainnya adalah pendampingan anak-anak yang dikoordinatori oleh Sr. Yunita dan Sr. Yetty, pun bekerjasama dengan Sr. Theodorine dan relawan dari warga Asrama Mahasiswi Syantikara, Mahasiswa AKPER Panti Rapih, para siswa SMA Kolese de Britto, dan warga Asrama SMA Stella Duce 1 Samirono, yang diadakan setiap pukul 16.00 WIB. Anak-anak diajak bermain bersama, menggambar dan mewarnai, dan menonton film bersama. Sedangkan di pagi harinya, pukul 09.00 WIB, Sr. Clara dengan setia dan sabar mengajari mereka, baik orang tua maupun anak-anak, meronce mote untuk dibuat aneka gantungan kunci dan rosario.

Kemudian, para lansia pun tak luput dari perhatian para suster. Bersamaan dengan aktivitas meronce mote, Sr. Iremtrudis berkenan memimpin senam untuk lansia. Selain itu para suster pun mengusahakan buku-buku bacaan untuk mereka. Syukur bahwa Penerbit Percetakan Kanisius dan Gramedia memberikan sumbangan buku-buku bacaan untuk anak-anak dan dewasa. Semua itu diupayakan para suster agar para pengungsi tidak nglangut dan bosan. Apalagi mereka terbiasa bekerja, sedangkan di tempat pengungsian tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya duduk-duduk saja. Mau ngobrol juga sudah kehabisan bahan obrolan.

Demikianlah, para hamba Yahwe berupaya mengajak saudara-saudaranya yang sedang berkesesakan hidup akibat bencana Gunung Merapi ini untuk tidak larut dalam kesusahan, kendati tak bisa dipungkiri bahwa bencana ini akan berdampak pada hidup mereka di hari-hari mendatang karena status Gunung Merapi yang tidak dapat diprediksi. Namun, setidak-tidaknya para suster sedikit terlibat membantu mereka, meringankan beban mereka dengan menerima, menampung, dan melayani mereka. Semoga nama Tuhan semakin dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas.

Keterlibatan Hamba Yahwe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

id_ID