Patung Maria Bintang Samudra di Gereja St. Nicolaas

Bunda Elisabeth Gruijters mengalami relasi kasih-belarasa Yesus Kristus sedemikian mendalam dan Tuhan berkenan menganugerahkan untuk diikutsertakan dalam duka Ilahi-Nya. Pengalaman ini mendayainya untuk mengikuti Yesus. Kerinduan ini bertumbuh dalam pergulatan dan perjuangan panjang. Maka katanya: “Betapa lamanya aku telah berdoa, mengesah serta mencucurkan air mata; atau dapat dikatakan: tak henti-hentinya aku mempersenjatai diriku dengan pengharapan para Bapa Bangsa; semenjak tahun 1820 sampai pada tanggal 15 Agustus 1836 selama siang dan malam terus menerus, aku berdoa dalam batin
di hadapan takhta Allah. Akhirnya aku mulai merasakan adanya hasil, yaitu pada hari raya Maria diangkat ke Surga, ketika aku ada di dalam bekas Gereja St. Nicolaas menghadiri Misa Agung yang 34 35 dipersembahkan oleh enam orang imam dengan orkes lengkap… namun yang sama sekali tidak kudengar atau kulihat, sebab aku “tak sadar akan diriku”, karena kerinduanku yang bernyala-nyala itu. [2]

 

Ketika itu aku menempatkan diriku tepat di hadapan patung Bunda Maria yang keramat, dan aku berdoa kepada tiga orang Biarawan Suci yang kujadikan pengantaraku karena aku sendiri sudah begitu lama mendoakannya, sehingga tidak mempunyai keberanian lagi untuk berdoa; dengan diam-diam aku telah memutuskan untuk mohon kepada St. Antonius, St. Fransiskus dan St. Dominikus, agar mereka sudi membantu aku dalam doa,dan mewakili aku menghadap tahta Bunda Allah yang suci. Aku tidak berani lagi minta untuk diriku sendiri supaya aku diterima dalam sebuah biara sepertiyang kumaksudkan dan untuk maksud yang sama, para bapa pengakuanku telah berkalikali menulis ke pelbagai biara. Dalam kepercayaan yang hidup, aku memohon kepada ketiga Biarawan Suci tersebut; dengan mencucurkan air mata sambil berlutut di muka patung Santa Perawan Maria yang keramat itu, berdoalah aku sebagai berikut: [3]

Ya, dikau yang mulia Santo Fransiskus, Santo Antonius dan Santo Dominikus, aku tahu bahwa kalian telah menyaksikan kerinduan, air mata, serta doa-doaku yang berkepanjangan, supaya aku diterima dalam sebuah biara. Tetapi semuanya itu sekarang sudah lewat, aku sudah terlalu tua, bakat ataupun harta aku tak punya. Namun demi cinta Allah, cobalah menghadap tahta Bunda Allah yang suci, dan katakanlah atas namaku bahwa aku sungguh tahu, Beliau belum pernah menolak permohonan seseorang pada hari raya pengangkatannya yang penuh berkat ke surga. [4]

 

Saya minta perantaraanmu untuk mengajukan permohonan yaitu, jika sekiranya berkenan kepada Tuhan, aku mohon agar di sini, di Kota Maastricht ini, didirikan sebuah biara, di mana Tuhan akan diabdi secara tulus ikhlas, dan bagiku sama saja tarekat mana, ataupun peraturan mana yang akan diikuti. Aku tak usah mengambil bagian di dalamnya, asal ada orang yang mau mengabdi Tuhan secara ikhlas dan sempurna. Aku pun tahu bahwa aku tak dapat ambil bagian karena usiaku sudah lanjut, namun aku akan mempersembahkan harta peninggalan ayahku, betapapun sedikitnya, sampai mata uang yang penghabisan untuk rumah ini. [5]

Dalam keadaan ini semakin hiduplah imanku, semakin teguhlah harapanku, dan cintakasih bernyala-nyala disertai cucuran air mata, memberi aku ketenangan hati yang membahagiakan; tibatiba terdengar olehku persetujuan yang suci itu dari Surga, dan kata persetujuan itu adalah ini; Itu akan terjadi. [6]
Seketika itu juga cucuran air mataku berhenti, dan aku menjadi sadar kembali disertai kebahagiaan batin, rasa terhibur dan lega. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana aku berlutut di sana, di hadapan patung keramat itu, dalam gereja yang penuh sesak; akan tetapi meskipun orang menginjak-injak aku dan mengotori pakaianku yang terbaik, yang biasanya kukenakan pada hari raya seperti itu supaya rapi dan teratur untuk menghadap Mempelaiku yang tercinta, karena hari itu pagi-pagi aku sudah menyambut Komuni, walaupun pakaianku diinjak-injak atau menjadi kotor, aku pulang kerumah dengan merasa terhibur dan lega sekali, berkat kata persetujuan tersebut. [7]

Tetapi aku masih ingat dengan jelas, ketika keluar dari gereja aku melangkah ke jalan tanpa menghiraukan kanan-kiri, kukira jiwaku melayang. Aku tak mendengar atau melihat seorang pun dan aku merasa kakiku tidak lagi berpijak di atas tanah. Aku berpikir, seandainya orang agak memperhatikan diriku, mereka menganggap aku sebagai orang tolol, tetapi hal ini tidak berkenan pada Allah yang baik; masih ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku, sebab setibaku di rumah, tak seorang pun kujumpai di sana. Meskipun menurut keyakinanku, apa yang terjadi itu – yang telah kuceritakan di atas – sungguh-sungguh benar, namun seperti waktu-waktu lain, jika kuterima karunia khusus dari surga, aku selalu takut juga kalau-kalau diperdayakan setan; karena itu, maka pertama-tama kulakukan ialah mengambil Kitab Kencana Thomas á Kempis (Mengikuti Jejak Kristus), dan tepat kudapati pasal 17 dalam Buku Pertama, yaitu mengenai hidup mem-biara. [8]

Bagiku ini merupakan suatu tanda untuk lebih menaruhkan pengharapanku kepada Tuhan dan percaya akan jawaban surgawi yang baru satu jam yang lalu kudengar dalam hatiku dari surga. … Ya Allah… Yang Mahakuasa dan Maharahim, inilah satu-satunya pengharapan akan dikabulkannya permohonanku serta aku akan memperoleh anugerah yang kumohon selama limabelas, enambelas tahun dengan begitu banyak mencucurkan air mata, memanjatkan keluh-kesah serta doa-doa ke surga dan kepada semua orang kudus. Kukatakan, semua orang kudus yang dicintai Tuhan itulah yang kubangga-banggakan, karena pada hari raya Segala Orang Kudus tahun 1789 aku dilahirkan dan dibaptis. Lalu aku merasa puas sekali.” [9]
Kerinduan batin seperti yang dialami oleh Bunda Elisabeth Gruÿters merupakan anugerah Allah. Kerinduan dilihat dari pihak Allah, Dia berkenan menarik Elisabeth Gruÿters lebih dekat dalam kasihbelarasa-Nya, dan dilihat dari pihak Elisabeth, dia menanggapi atau membiarkan dirinya ditarik olehNya secara leluasa. Pengalaman ini terjadi karena disposisi hati Elisabeth dalam keadaan lepas-bebas. Hatinya tidak mempu-nyai kelekatan-lekatan lain selain kasih Allah. Pengalaman akan Allah semacam ini sulit dibahasakan dengan katakata. Bahasa batin yang spontan muncul dalam diri Elisabeth Gruÿters adalah airmata. Kata-kata tidak akan mampu memuat pengalaman ini. Air mata dalam konteks ini adalah air mata rohani. Dibedakan dengan air mata emosi. Kerinduan Allah yang ditabur dalam hati Elisabeth bertumbuh subur
dan mendapat penegasan dengan “disaksikan” Bunda Maria, St.Antonius, St. Fransiskus dan St.Dominikus. Penegasan itu tidak lain adalah kata persetujuan “Itu akan terjadi”. (Bdk. Luk 1:26-38). Maka tanggal 15 Agustus 1836 adalah hari jadi “embryo” Tarekat CB dalam diri Elisabeth Gruÿters.

[Cuplikan dari Buku Narasi HistorisBunda Elisabeth Gruyters, hal 33-37]

Terdengar Olehku Persetujuan yang Suci itu dari Surga: “Itu Akan Terjadi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_ID
en_US id_ID