Renungan Bulan Kitab Suci

Jumat, 04 September 2020

Lukas 5 : 33 – 39

  

Salam Damai Kristus,

Melalui bacaan Injil hari ini, saya hendak mengajak untuk sejenak menilik ke dalam kita masing-masing, pesan apakah yang hendak Tuhan sampaikan kepada diri kita masing-masing. Mungkin saudara/i telah atau setidaknya pernah menyaksikan video yang saya sertakan pada awal renungan saya ini. Bisa jadi video ini membosankan, menjengkelkan atau hanya perlu diabaikan saja, tidak penting. Saya hendak mengkaitkan dengan situasi yang sedang kita hadapi saat ini, yaitu pendemi covid 19.

Bagi kami yang sungguh mengalami situasi tersebut, yang bahkan harus berjuang bersama dengan saudara/i yang mengalami secara langsung terjangkit virus ini, yang berjuang untuk kembali mamperoleh kesehatan atau bertaruh dengan akhir hidup dalam kesendirian. Sebagaiman refleksi Bunda Elisabeth Gruyters, pendiri kongregasi CB, “Hanya yang mengalaminya sendiri dapat melukiskan betapa sengsaranya jiwa dalam keadaan demikian.” EG 42 yang telah dituliskan sekitar 200 tahun yang lalu di masa hidupnya. Demikian pula situasi yang sedang saya hadapi saat ini, yang dapat dipastikan bahwa St. Carolus pun akan setuju dengan refleksi Bunda Elisabeth. 

Sebelum kita memasuki pokok permenungan dari kitab suci, pertama saya mengajak saudara/i untuk memasuki kisah St. Carolus yang telah terlebih dahulu meghadapi situasi yang kurang lebih hampir mirip mencekamnya dengan yang sedang kita alami saat ini. Bila saudara/i masih ingat, ketika kali pertama gereja-gereja dan kapel ditutup karena pandemi covid 19. Seluruh umat merayakan Ekaristi melalui alat komunikasi, bahkan yang masih melekat dalam ingatan saya, bagaimana mencekamnya situasi di kota Roma, Itali, bagaimana kepedihan hati Bapa Paus menghadapi situasi ini. Kematian setiap hari hampir terjadi karena covid 19, sampai dengan kerelaan Bapa Suci memberikan berkat Sakramen MahaKudus melalui live streaming, meskipun situasi pada saat itu hujan.

Situasi tersebut ternyata juga telah dialami oleh St. Carolus 444 tahun yang silam.

Tahun suci 1576 telah dibuka di Milano. Tapi dalam musim panas tahun itu, orang mulai mendengar adanya wabah sampar yang mulai berjangkit di Italia Utara. Banyak korban mulai berjatuhan di Matova. Penularan hanya dapat dicegah dengan menutup pintu gerbnag kota rapat-rapat dan pengawasan yang teliti agar orang tidak keluar masuk kta seenaknya saat terjadinya wabah. Biasanya wabah menjalar dalam musim panas dari kota yang satu ke kota yang lain; dan dengan demikian dari negara ke negara.

Dalam bulan Juli itu, Gubernur telah memerintahkan untuk menutup semua pintu gerbang kota Milano, walaupun bahaya yang mengancam maih terasa agak jauh. Penutupan kota dirasa menjadi hambatan dalam merayakan tahun suci, karena orang-orang dari luar kota tidak dapat ikiut merayakannya, tanpa memenuhi syarat-syarat peziarhan ke beberapa gedung gereja yang terpilih. Kota Milano menjadi sepi.  – Baca : mirip situasi kita saat ini pemberlakuan Lock down – PSBB – protokol kesehatan.

Sementara itu Carlo mengajak para imamnya untuk turut serta menanggulangi wabah itu dengan merawat mereka yang menderita. Ia sendiri juga bekerja dengan tak kenal lelah. Kalau ada rumah yang pintunya disegel dari luar sebagai tanda bahwa di dalamnya ada penderita, maka mereka masuk lewat jendela agar dapat mencapai yang sakit. Kalau terdengar suara anak-anak menangis dalam sebuah rumah, menandakan adanya ayah atau ibu yang sakit, bahkan mungkin meninggal, maka salah satu dari para penolong itu memanjat jendela masuk  ke dalam rumah untuk menyelamatkan anak-anak itu.  Baca – Isolasi mandiri- saling peduli untuk menolong yang terkonfirmasi positif covid 19 – on stigma.

 Lonceng gereja-gereja berdentang 7 kali semalam untuk mengajak umat berdoa secara khusus. Waktu pemerintah daerah memperketat aturan pengasingan bagi mereka yang diperkirakan membawa penularan, sehingga orang-orang tidak lagi pergi ke gereja, Carlo menyuruh orang membangun altar-altar di tempat-tempat yang strategis dalam kota, sedemikian hingga orang-orang dapat mengikuti persembahan Misa Kudus lewat jendela-jendela rumah masing-masing. Baca- Misa & Penerimaan Sakramen-sakramen Live Streaming-saat ini.

Cara pencegahan penularan yang digunakan pada waktu itu juga masih sangat primitif. Setiap kali orang meraba penderita, maka mereka mebakar jari-jari tangan mereka pada nyala sebuah lilin sebentar, dan pakaian yang tercemar segera ditinggalkan dan dibakara. Baca – mematuhi protokol kesehatan – memakai masker-jaga jarak – memakai APD yang sesuai tepat dan benar – sering mencuci tangan – jaga imun tubuh –  Apa yang sulit?

Akhirnya wabah mulai surut pada akhir tahun 1577, dan pada tahun 1578, aturan-aturan pengasingan ditiadakan. Pada waktu itu diperkirakan bahwa sampar menelan korban 17.000 jiwa di dalam kota Milano dan 8.000 orang di daerah sekitarnya.

Baca-korban covid 19 di Indonesia-Nasional – s.d 2 September 2020 : 7.616 jiwa – Dunia : 680.894 jiwa. (Sumber : https://covid19.go.id/)

Refleksi : Kita sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus dapat berbuat apa?

Demikian salah satu kisah perjalanan St. Carolus, yang ternyata juag mengalami peristiwa yang mirip dengan yang sedang kita hadapi saat ini.

Saya berbagi sedikit pengalaman nyata selama pandemi ini, saya merasa bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk ikut merasakan dampak dan bersentuhan langsung dengan virus ini, karena kami tinggal di zona merah, bukan saja lingkup daerahnya namun disekitar kami benar-benar zona merah, yaitu biara yang berada di kompleks Rumah Sakit, yang pastinya tidak pernah menolak pasien dengan kriteria penyakit apapun, termasuk covid 19 ini. Meskipun saya melibatkan diri dalam pelayanan kesehatan di bangsal non covid, namun tidak jarang kami tanpa persiapan menghadapi pasien-pasien yang terkonfirmasi positif covid 19 setelah kami rawat beberapa hari.

Pada awalnya peristiwa tersebut menegangkan bagi kami, namun seiring berjalannya waktu dan sudah mengaalami hal yang sama beberapa kali, kami menjadi lebih survive, tidak ada rasa takut maupun tegang lagi. Dengan semangat kasih dari hati kami tetap hadir membantu dan melayani tubuh Kristus yang terluka yang menjadi tamu Ilahi bagi kami. Tentu saja denga tetap mematuhi protokol kesehatan dengan mengenakan APD sesuai dengan level dimana kami ditugaskan.

Bila saya refleksikan dengan memperhatikan peristiwa yang terjadi  terkait covid baik melalu media massa, televisi maupun menyaksikan secara langsung ketika saya ada keperluan yang mengaharuskan saya untuk keluar dari biara, sungguh kontras dengan yang kami alami. Betapa tidak sedikit yang tidak punya perasaan peduli dan bertanggungjawab akan keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Peraturan pemerintah dan protokol kesehatan dianggap sesuatu yang aneh dan tidak penting.

Mulai dari tidak bersedia memakai masker, kumpul-kumpul, keluar rumah hanya untuk have fun sampai dengan mengambil secara paksa jenasah terkonfirmasi covid 19. Bagi yang tidak menghadapi dan mengalami hal ini merasa tidak terjadi apa-apa, bahkan ini merupakan hal biasa, namun bagi kami yang berkecimpung langsung, peristiwa tersebut merupakan suatu keprihatinan. Perjuangan yang kami upayakan seolah-olah memang sudah menjadi tanggungjawab kami, tanpa ada yang memedulikan keselamatan dan kesehatan kami.

Dalam masa pandemi dan seterusnya yang dibutuhkan adalah pola pikir yang baru, karena bila tidak dapat merubah pola pikir mustahil untuk berubah kearah yang lebih baik demi mengalami keselamatan. Contoh konkretnya selalu memakai masker, hal ini pada awalnya mungkin merupakan sesauatu yang aneh, lucu dan sebagainya. Di komunitas, dimana saya tinggal, biara Carolus Jakarta, setiap saat kami selalu memakai masker, baik suster muda maupun tua, baik yang aktif berkerja maupun yang WFH ( Work From Home) pengecualian di kamar sendiri, saat makan dan mandi. Pada awalnya bagi kami kebiasaan baru ini merupakan hal yang tidak udah, engep, tidak bebas, berkeringat, dan masih banyak keluhan lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi suatu habitus baru dalam komunitas kami, sebaliknya siapa saja yang kami jumpai tidak memakai masker, kami mengganggap aneh.

Sepenggal kisah saya pada masa pandemi diatas coba saya analogkan dengan sepenggal kutipan Injil pada hari ini  yang disampaikan oleh St. Lukas, “Demikian juga tiada seorang pun mengisikan anggur baru  ke dalam kantong kulit yang tua.  Sebab jika demikian, anggur baru itu akan mengoyakkan kantong tua itu,  lalu anggur akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” Dapat disamakan bahwa suatu situasi yang baru yang juga mengalami perubahan baru juga membutuhkan “tempat/wadah” pola pikir yang baru pula, artinya hal ini tidak terpisah dengan mati raga, yaitu meninggalkan zona nyaman kita “saat itu” menuju pada suatu kenormalan baru/habitus baru. Memang Anggur tua rasanya lebih enak, demikian pula situasi “yang dulu lebih nyaman dan menyenangkan bahkan lebih mudah “memabukkan kita” dengan banyak kesenangan, keluar tanpa protokol kesehatan, bebas kemanapun, bebas bertemu siapapun, kapanpun, melakukan apapun tanpa ada yang melarang, namun bila kita membuka hati, “kemabukan akan anggur tua” itu telah memberikan dampak yang cukup berat juga, mulai dari polusi udara/global warming sampai dengan ketidak pedulian satu dengan yang lain, bahkan mungkin kurang menghargai anugerah kehidupan yang sudah Tuhan karuniakan. Mari saudara/i, bersama kita upayakan anggur yang baru ini kita tampung pada wadah yang baru, supaya tidak terbuang percuma dan semakin banyak orang yang akan mengalami keselamatan sesuai dengan misi Yesus yang rela hadir bersama dengan kita di dunia ini. Terima kasih untuk kesempatan ini dan kemurahan hati sudara/i bersama merenungkan sabda Tuhan hari ini. Semoga renungan sederhana ini menggugah hati kita untuk bersama-sama mengupayakan kenormalan baru ini terlaksana demi orang-orang yang kita kasihi dan kebaikan diri kita sendiri, sebagimana yang telah diteladankan dan diperjuangkan Yesus dan St. Carolus menuju perubahan baru yang menyelamatkan. Semoga!

Salam sehat, Tuhan Yesus memberkati.

Sr. Dorothea CB

 

REFERENSI :

Kisah Carolus Putera Borromeus, oleh Sr. Catharina Liedmeier CB, Maastricth 1989.

Alkitab

https://covid19.go.id/

 

 

Refleksi Seorang Suster RS Sint Carolus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_ID