Para suster yang berkarya di bidang kesehatan mengadakan pertemuan di Rumah Retret Puspanita, Ciawi sejak tanggal 6 sampai 8 Maret 2020.

Para suster baik yang berkarya di Rumah Sakit maupun di karya-karya internal konggregasi, dari ujung Sumatera (Klinik St. Carolus Bengkulu, Klinik Pratama St. Yosef Lahat), Jakarta (RS Sint Carolus Jakarta dan unit-unit di bawahnya), Bandung dan Padalarang (RS St. Borromeus, RS St. Yusuf Cicadas, RS Cahya Kawaluyaan), Cigugur (RS Sekar Kamulyan) sampai Yogyakarta (RS Panti Rapih, RS Panti Nugroho, RS Panti Rini, RS Panti Rahayu) dan karya internal kongregasi di St. Anna, berjumlah hampir 50 orang, didampingi para suster TPP (Tim Pembina Provinsi)

Hari pertama, Jumat, setelah snack pk 10.00, Sr. Mariati dari TPP membuka pertemuan dengan Doa Pembuka dan ucapan Selamat Datang. Dilanjutkan dengan pengantar dari Sr. Yustiana, dengan tema “Mengembangkan Kemitraan dalam Mengaktualisasikan  Spiritualitas CB pada Layanan Kesehatan di Era Disrupsi”. Prinsip-prinsip kemitraan Yesus dan inspirasi dari nilai-nilai spiritualitas Bunda Elisabeth menjadi teladan dalam menjalankan layanan karya kesehatan terutama di era baru, era digital

Setelah makan siang, sesi sore diisi oleh Sr. Yosefine dengan tema “Core Value I CARE sebagai Spirit Pelayanan Kesehatan” dan dimoderatori oleh Sr. Therese.

Esok paginya, untuk semakin membuka wawasan mengenai Pelayanan Kesehatan di Era Disrupsi materi “Digital Health” diberikan oleh Bapak Simon Subrata, bagaimana secara cerdas menggunakan teknologi dalam dunia kesehatan yang ditutup dengan kutipan “biarkan mesin bekerja untuk hal-hal yang teknis dan kita, manusia mengembangkan spiritualitas layanan.

 

dilanjutkan oleh dr. Daniel Tjen, SpS, dengan pembahasannya “Managing Military Hospital Under VUCA”.

Berdasarkan materi yang diperoleh tersebut, sore hari diisi dengan diskusi yang dipimpin oleh Sr. Luisa. Dengan pertanyaan diskusi bagaimana upaya para suster dalam mewujudkan I Care dan kemitraan dalam karya kesehatan, bagaimana upaya konkrit yang dilakukan dalam menyikapi tantangan pelayanan di era disrupsi.

Pertemuan akan berakhir di hari Minggu dengan pembuatan action plan masing-masing yayasan dan penyusunan rekomendasi oleh tim formulasi.

Semoga seperti misi awal kedatangan para misionaris pertama CB yang pada masa itu di Batavia mengalami “krisis kesehatan” dengan munculnya berbagai penyakit menular, mengundang kehadiran kongregasi CB dengan visi “keselamatan manusia”. Para suster diharapkan seperti juga misionaris yang datang ke Indonesia dengan melintasi batas-batas yang kompleks, melampaui budaya, sejarah, bahasa, yang berarti “mengosongkan diri” sehingga dapat menyatu, sehati, dan seperasaan dengan setiap pribadi yang dilayani tak terkecuali. (Diambil dari materi Pengantar Sr. Yustiana, Bapak Simon dan dr Daniel Tjen)***

Pertemuan Para Suster Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_ID
en_US id_ID