Berawal dari peristiwa Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa (Kej 3). Padahal jika kita bayangkan kehidupan yang dialami oleh Adam dan Hawa  dalam Taman Eden sangatlah sempurna; kemudian retak karena mereka melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Lalu, entah dari mana dan tidak diceritakan bagaimana datangnya ular untuk menggoda Hawa. Hal ini juga menggambarkan bahwa Kisah Kejadian tidak memberi kejelasan tentang asal kejahatan. Ular dalam Perjanjian Lama dipakai untuk menggambarkan kejahatan di dunia karena ular berbisa dan mematikan sehingga ditakuti.

Percakapan Hawa dengan ular merupakan proses dimana dosa mulai perlahan dan secara sangat halus masuk dalam kehendak bebas yang diberikan kepada manusia saat Allah menciptakannya. Kecerdikan ular dalam berdialog dengan memutarbalikkan tentang yang dikatakan Allah kepada mereka. Dalam Kej 2: 16 Allah mengatakan kepada manusia : “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kamu makan buahnya, sebab pada hari kamu memakannya, pastilah engkau mati.” Sedangkan yang dikatakan ular dalam percakapannya dengan Hawa pada Kej 3: 1 bahwa Semua pohon dalam taman  ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Sempat Hawa menjawab dengan apa yang ia dengar dari Allah, namun dibalas pula dengan kelicikan ukar yang sangat halus terus membawa Hawa untuk semakin tertarik dengan tawaran-tawaran yang sebenarnya sangat kecil-kecil dan remeh dengan mengatakan  (Kej 3:4) “sekali-kali kamu tidak akan mati”, namun dalam keremehan ini justru menjadi peluang besar bagi kedosaan itu masuk dan merasuk dalam diri.

Hal ini sudah terbukti dengan kehidupan kita sehari-hari, “keutamaan” sering ditanggapi dengan tawar-menawar mulai dari hal yang sederhana yaitu sekali-kali juga tidak apa-apa, yang lama-lama pasti menjadi habit/kebiasaan dalam pola hidup. Efek dari dosa nyatanya begitu besar, bukan hanya diri sendiri yang menerima konsekuensi atas dosa, namun juga berdampak pada orang lain. Contonya, Adam dan Hawa saling melempar kesalahan ketika Tuhan Allah menanyai mereka. Adam menjawab “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu, maka kumakan”. Hawa juga mengatakan “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan”.

Dalam peristiwa saling melempar ini, bisa kita pahami bagaimana ritme kita berbuat dosa yaitu saat kita sedang berada dalam situasi lemah, dalam arti situasi dalam kebenaran bahwa benar berbuat salah, dan ketidakmampuan untuk mengakui kesalahan, lalu dilemparkan kian meluas; dan nyatanya masih banyak lagi dampak dari dosa, bahkan kita rela menghianati sahabat, saudara atau orang tua kita demi keaman-nyamanan kita.

 

Lalu kenapa kita masih berbuat dosa, padahal Tuhan menciptakan kita baik adanya (Kej 1:31) ?

Tuhan menciptakan semua baik adanya; Tuhanpun mencipta kita dengan kehendak bebas, dan Tuhan memberikan kehendak bebas  itu bagi kita juga untuk dapat semakin murni. Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa harus diberi kehendak bebas? Padahal jika Tuhan sudah mengatur semua baik adanya, pasti tak ada dosa didunia ini.

Kenyataannya bukan itu maksud Tuhan; jika Tuhan melakukan tentang pertanyaan itu, maka Tuhan telah memprogram kita, dalam arti kita bukan robot yang sudah terprogram dengan sistem yang canggih dan sempurna untuk tunduk, mencintai, memuliakan, dan setia kepada Tuhan; bukan itu semua. Kita adalah manusia yang adalah ciptaan, sama dengan ciptaan yang lain, bukan berarti kita lebih sempurna dari ciptaan lain, namun kita diberi rasio untuk menentukan dan menjalani hidup ini dengan baik, dan juga dengan kehendak bebas. Kehendak bebas membawa kita dapat berproses, memilih, dan menemukan arti dari kesetiaan kepada Allah dalam hidup kita. kita bayangkan, jika kita hidup sudah deprogram Allah, pernahkah kita merasakan apa arti perjuangan, apa arti mempersembahkan diri, dan apa arti mencitai-Nya dengan mengorbankan banyak hal, juga yang berharga sekalipun dalam hidup kita.

            Sebaliknya, jika dalam kehendak bebas, kita melangkah tak beraturan, atau hanya sekadar coba-coba, ah… sekali-kali juga tidak apa-apa, perlahan namun pasti, dosa sudah mulai memasuki jiwa kita; bahkan secara tidak sadar tiba-tiba kita sudah sangat jauh dari Allah, dan terjebak dalam kehanyutan mendayu nikmatnya dosa. Dalam titik ini, Allah semakin kuat memanggil kita untuk pulang dan kembali bersatu dengan-Nya. Ia menunggu, mencari, berlari dan terus sambil berteriak memanggil kita (Luk 15 “Yang Hilang, Ditemukan); karena Allah sedari semula menciptakan kita baik adanya dan menginginkan kita bahagia. Maka, dengan kehendak bebas, beranikah kita memilih untuk pulang dan bersatu kembali dengan Allah? ***

 

(Sr. Theofila, mahasiswi Semester 6, Universitas Sadar, Jurusan Teologi)

Mengapa Saya Bisa Berdosa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *