Tanggal 2 Jul 2022, pk 09.00, kami meninggalkan Novisiat kami tercinta menuju tanah Blembem. Saya ingat, Yesus pernah berpesan pada para murid untuk jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, tapi kali ini kami membawa pakaian ganti dong demi kenyamanan bersama, hehehe. Kami membawa 1 tas ransel, karena syarat dari magistra, tidak boleh ada “teng-tengan” (alias membawa barang dengan dijinjing di tangan). Tetapi saya tetap membawa teng-tengan, eitts jangan salah, isi tas teng-tengan itu adalah buah semangka, pisang dan salak. Sebagai rekan kerja yang baik, Sr. Alexia dan saya bersatu bersama-sama membawa tas buah itu.

Kami ber-17 berjalan menuju halte bus Trans Jogja di seberang novisiat kami. Raut kegembiraan terpancar dari wajah kami semua. Sebelum perjalanan kami membukanya dengan doa bersama memohon perlindungan Tuhan.

Selama perjalanan dengan bus (karena dalam bus kami, isinya hanya kami ber-17) ada beragam aktivitas yang dilakukan. Ada yang menjahit kode, ada yang bercerita dan ada pula yang membuat lawakan, sehingga suasana terasa penuh sukacita.

Tidak terasa akhirnya kami telah tiba di depan RS Panti Nugroho. “Masih jauh sekali ini untuk sampai ke Blembem.” ucap pak supir bus yang bisnya kami tumpangi ketika kami hendak turun. Namun demikian, ucapan pak supir tidak menggoyahkan semangat kami, justru membuatnya semakin membara. Sr Alexia dan saya di posisi paling terakhir saat berjalan sambil menginging tas berisi buah. Hingga akhirnya kami tertinggal dari rombongan depan karena harus beberapa kali berhenti mengurusi posisi menjinjing tas buah itu. Ketika Sr. Hetty CB menengok ke belakang, rombongan diminta berhenti dan menunggu kami, lalu beliau mengingatkan kami agar tidak berjalan berdampingan, karena di jalan banyak kendaraan dan akan sangat mengganggu orang lain. Akhirnya Sr. Tarsisia memberi solusi dengan mengeluarkan tas kecil dari ranselnya dan buah pun dibagi kedua tempat, jadi 1 orang memegang 1 tas dan tidak perlu menjinjingnya secara berdampingan. Masalah buah teratasi. Tapi saya tetap di posisi belakang, maklum badan paling besar jadi penjaga gitu hehe

Dari belakang. saya melihat kelucuan para suster di barisan depan yang setiap ada gapura berhenti. Sepertinya lupa-lupa gerbang masuk Blembem. Sempat juga terjadi diskusi karena beberapa suster yakin gerbang yang di hadapan kami itu gerbang Blembem dan hampir mau menyebrang. Namun, saya berkata “bukan ini, patokannya ada yang jual es kelapa di seberang gapuranya.” Bersyukur ide saya didengar dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami tiba di Blembem dengan kesegaran alamnya dan disambut keceriaan Sr. Marisa CB, Sr. Franbertis CB dan Sr. Dedeusia CB. Sampai di tempat ini kami disuguhi snack olahan singkong.

Setelah itu kami dibagi menjadi 4 kelompok masak, yaitu Kelompok lele (untuk makan siang), kelompok snack olahan singkong, kelompok nasi padang (makan malam) dan kelompok nasi goreng (untuk menu sarapan di Minggu pagi).

Saya sendiri masuk dalam kelompok nasi padang bersama Sr. Ambrosia, Sr. Anselma dan Sr. Laura. Sr. Laura dan saya bertugas mengupas dan memotong nangka sayur, sedangkan Sr. Ambrosia dan Sr. Anselma membuat bumbu dan mengolahnya. Karena perdana bagi saya untuk mengupas nangka, maka saya mengalami kesulitan Meskipun sudah diberi alas untuk nangka agar tidak kotor, tetapi yang terjadi, nangka yang saya kupas itu penuh dengan tanah. Belum lagi getah nangka itu meskipun telah dilumuri minyak tetap lengket dan akhirnya mengenai habijt (jubah suster) karena tidak sadar tangan sudah penuh getah.

Akhimya berapa lama kemudian, nangka itu selesai dipotong, dicuci, dan siap direbus. Bagian merebus adalah Sr. Anselma. Setelah itu, saya menghampiri Sr. Ambrosia dan Sr. Laura, membantu mereka mengulek bumbu. Tetapi baru berapa menit, saya diminta gantian karena katanya saya ngulek bumbu kayak main masak-masakan anak TK, hehehe… Saat dikatakan seperti itu saya merasa konyol dengan diri saya dan kami pun saling menertawakan.

Setelah di kelompok tidak ada lagi tugas yang diberikan untuk saya, saya pamit dari kelompok menghampiri kelompok snack. Di kelompok itu sedang membuat combro. Saya membantu membentuk. Saya mengalami sukacita karena para suster di kelompok itu teriak-teriak memarahi saya, karena ukuran combronya yang besar seperti badan saya, hehe. Kesempatan membuat guyonan yang akhirnya mereka pun tertawa. Saya pun belajar membentuk sesuai ukuran tapi ternyata kekecilan dan mereka komentar lagi, dan saya tanggapi dengan guyonan lagi.

Lalu Sr. Hetty, CB, Sr. Barbara & Sr. Tarsisia memanggil saya ke kelompok singkong. Di kelompok ini, tugasnya mengupas 2 karung singkong dan mengupas kulit singkongnya (kulit luarnya dibuang dan kulit dalam disimpan). Rasanya penuh sukacita di kelompok ini, sehingga kami tertawa terus sambil mengupas sampai akhirnya semua singkong itu selesai dikupas, sehingga tidak terasa lelah. Mereka tertawa bukan karena apa, tetapi karena saya belum bisa mengupas singkong. Sr Hetty pun mengajari saya.

Hal paling lucu, saat tempat singkong sudah penuh tetapi singkong yang sudah dikupas masih banyak lalu ada 1 tong yang kami kira hanya kulit dalam yang mau disimpan, sehinga ada yang mengusulkan untuk dituang saja kulitnya itu. Dengan semangat saya tuang, tapi ternyata isinya sampah… Jadilah tambahan pekerjaan untuk membereskan sampah itu. Kami menertawakan kebodohan yang terjadi.

Setelah dari singkong, kami tim singkong menyebar, ada yang membantu masak, ada pula yang membantu buat geblek. Aktivitas memasak ini berakhir pukul 16.00. Setelah itu, kami snack bersama dengan menu cireng dan combro. Lalu kami pergi beristirahat. Ketika masuk dalam tenda, terasa pengap, bersyukur kemarin diberi Eco Enzym oleh Sr. Theresina, CB. Saya semprotkan Eco Enzyme itu di dalam tenda, sehingga akhirnya terasa lebih segar. Saya kemudian memilih keluar tenda, karena tidak mengantuk. Saya berjalan ke pendopo ujung dan menjahit kode disana sendirian.

Beberapa menit kemudian. Sr. Ambrosia juga keluar tenda dan menghampiri saya. Lalu menyusul Sr. Hetty CB dan disusul oleh Sr. Barbara. Jadilah kami ber-4 berjaga di pendopo. Pukul 16.30, saya mandi duluan, lalu bersiap untuk ofisi pukul 18:00. Sambil menunggu waktu, saya menjahit kode lagi sambil sharing dengan para suster.

Setelah ofisi, kami kedatangan tamu yaitu Sr. Luisa, Sr. Mariati dan para dosen dari Binus yang sedang beracara di Syantikara. Rasanya menambah sukacita, terlebih saat para dosen ikut bernyanyi bahkan bermain gitar. Tidak ada rasa canggung.

Setelah para tamu pulang, kami bergegas cuci piring dan berangkat untuk api unggun, acara yang ditunggu-tunggu. Saya diusulkan teman-teman untuk menyalakan api unggun. Biasanya, saya akan tetap menolak. Walaupun beberapa kali dibujuk karena malu. Tetapi malam ini rasanya berbeda. Saat ditunjuk, saya hanya berkata “Ah ngawur”, tetapi akhirnya saya maju. Di depan saat diminta menyalakan, tidak langsung saya nyalakan, tetapi saya memutar dahulu. Dengan musik saya bergoyang. Menimbulkan tawa dari semua suster. MC pada malam itu Mas Gangga dan Mas Ogi menyemarakkan suasana. Turut hadir pula Pak Haryadi selaku penanggung jawab Blembem, bersama istri beliau. Suasana malam itu terasa penuh keceriaan. Sambil memakan jagung rebus dan singkong rebus, kami menikmati indahnya api unggun di Blembem…

Malam itu sambil membakar singkong, kami bermain games Simson & Delila, 7 up, juga menyanyi dan menari. Tak henti tertawa karena tingkah lucu beberapa suster saat games dan menari dangdut. Sampai pukul 21.30, kami baru beranjak istirahat setelah doa malam bersama.

Pagi hari, pukul 05.00, tim masak nasi goreng bangun. Saya pun ikut bangun untuk berolahraga. Udara pagi terasa amat sejuk. Saya joging memutar area Blembem. Saat melewati area dapur, saya melihat kesibukan Sr. Marisa CB beserta para novis tim Nasgor. Tetapi ketika melewati area tenda suasananya sangat sepi. Lalu keluar dari tenda, Sr. Laura dan saya, kami berolahraga joging bersama.

Setelah merasa cukup, saya beristirahat di pendopo sambil menikmati kesejukan udara dan embun pagi serta kabut di pagi itu. Setelah itu muncul Sr. Anselma lalu Sr. Michaela dan Sr. Evelyn. Mereka joging bersama. Sedangkan saya memilih menikmati keliling kebun melihat berbagai tanaman. “Tuhan terimakasih atas alam yang indah ini”, ucap saya sambil memegang beberapa tanaman di sana.

Pukul 06.00 saya mandi duluan, karena ofisi akan dimulai pukul 07.00. Beberapa suster pun mulai bangun dan keluar dari tenda untuk mandi. Saya telah siap dengan hajbit hari minggu, sambil menunggu, saya menjahit kode.

Pukul 06.45 kami berangkat menuju ruang pertemuan. Saya membantu menyiapkan lilin untuk doa bersama. Setelah opisi pagi kami sarapan bersama.

Setelah itu sesi sharing bersama Sr. Marissa CB. Lalu kami pengendapan dengan merenungkan 1 kata sebagai kesimpulan proses camping yang kemudian akan kami sebutkan dalam doa permohonan.

Pukul 10.00 kami snack dengan menu pempek, geblek dan puding. Lalu persiapan untuk misa yang dipimpin oleh Rm. Emmanuel (atau Rm. Epen) Pr yang berasal dari Attambua. Kami misa pukul 11.00. Misa di alam terasa menyejukan dan khidmat. Homili dari romo juga sangat berkesan bagi saya, yaitu dalam melayani pergi dengan sukacita, pulang pun harus dengan sukacita. “Aku mempersembahkan ‘persaudaraanku’, Tuhan” ucap saya saat doa permohonan. Ada yang mempersembahkan ‘lepas bebas’, ‘sukacita’ ‘pergulatan’, ‘proses’, ‘dinamika’, ‘keceriaan’, dll.

Setelah misa kami lanjutkan makan siang, Makan siang kali ini kami bebas memilih tempat. Sr. Catherine, Sr. Ariani, Sr. Laura dan Mas Ogi duduk di bawah pohon dekat tenda. Sr. Alexia & Sr. Tarcisia duduk di pendopo. Sr. Paskaline, Sr. Veronia, Sr. Michaela, Sr. Anselma, Sr. Ambrosia & Sr. Anastasia. Sr. Inesita dan Sr. Evelyn di bawah pohon besar tempat yang sebelumnya dipakai misa. Sr. Sesilia CB, Sr. Birgitta CB, yang baru datang bergabung bersama Sr. Hetty CB, Sr. Marissa CB, Sr. Ancilia CB dan Rm. Epen di saung yang ada jembatan, dan kami, Sr. Barbara, Sr. Miryam, Mas Gangga dan saya duduk di Jembatan dengan menggelar tikar.

Setelah makan kami habis. Sr. Hetty, CB ingin pergi mengunjungi para novis di tempat lain. Sr. Barbara dan saya mengikuti beliau, berlagak seperti pengawal, kami berkeliling sambil membagikan puding.

Setelah itu Sr. Hetty CB mengajak semua berkumpul di saung. Kami lalu menggelar tikar sambil bernyanyi, diiringi dengan gitar oleh Rm Epen Pr. Semua bernyanyi penuh sukacita sampai pukul 13.30 kami baru mencuci semua gelas dan membereskan dapur serta ruang pertemuan. Setelah itu kami mendengarkan sharing dari Sr. Ancillia tentang pengalaman misionaris beliau ketika  di Amerika.

Akhirnya tiba waktunya kami harus pulang. Setelah itu mengucapkan terimakasih, kami pulang dengan cukacita, seperti kotbah Rm. Epen. Kami kembali berjalan menuju Panti Nugroho dengan tambahan bekal makanan dari Blembem.

Saat di bus, sebagian dari kami terlelap dan hanya ada beberapa yang masih melek. Kami tiba di Novisiat pukul 15.30. Kesempatan ini sungguh kesempatan yang berharga. Saya banyak belajar. bukan hanya soal teknis mengupas nangka atau singkong, namun belajar mensyukuri dan menjaga alam semesta. Belajar pula kreatif mengolah makanan dan bahan yang ada, khususnya bahan yang ada di tanah Blembem, belajar kerjasama dan berkorban dalam saling melayani.

“Allah yang baik itu menganugerahkan rahmat-Nya dan memberkati kami setiap hari dengan apa yang kami butulkan” EG 49.

Trimakasih Tuhan, terimakasih kepada para suster DPP yang memberi dukungan untuk acara kemping ini. Terimakasih kepada Sr. Marisa CB yang membimbing dalam acara. Ini. Terimakasih untuk Sr. Hetty CB yang merancang acara ini, juga kepada Rm. Epen yang bersedia memimpin misa serta Mba Rina yang membantu kami dalam proses memasak. Kepada Pak Haryadi, Mas Angga dan Mas Ogi, terimakasih 1000.

ditulis oleh Sr. Venantine (Novis Tahun 1 CB)

Kemping Sukacita Para Novis CB

2 thoughts on “Kemping Sukacita Para Novis CB

  • 13/07/2022 pukul 4:50 pm
    Permalink

    Wouw….luar biasa sapaan Semesta dan aroma sukacita para Suster dan mitra karya. Salam Berkah Semesta. Terimakasih atas liputan dan untaian kisah nan penuh berkah.

    Balas
  • 13/07/2022 pukul 5:03 pm
    Permalink

    Seru dan memgasyikkan acara Campingnya. Andai saya masih belia, saya pasti akan ikut. 🌹👍

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

id_ID