“O..Pencinta hatiku yang manis Berilah aku bagian dalam dukaMu. Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta.Buatlah aku cakap dalam pengabdianMu, tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja pun juga bagi keselamatan sesama manusia.Amin (EG 39)”

Itulah syair doa Bunda Elisabeth Gruyters Pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus yang senantiasa dilambungkan oleh para pengikutnya. Syair doa yang indah dan sarat makna menjadi untaian syukur atas segala cinta Tuhan yang dilimpahkan dalam hidup panggilan religius yang masih dianugerahkan kepada saya.

Tak terasa sudah hampir 12 tahun saya menjalani hidup membiara yang diawali dari masa pembinaan Postulat dan Novisiat di Yogyakarta. Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus menjadi pelabuhan terakhir yang menentukan mau kemana tujuan hidup saya ??? Akhirnya saya menemukan tempat itu, tempat di mana saya ditempa untuk menjadi seorang religius yang memiliki hati untuk mencintai dan melayani sesama baik dalam karya kesehatan, pendidikan, pastoral dan sosial juga tempat di mana saya menemukan dan menimba kekuatan serta menerima limpahan rahmat kasih Allah yang mengalir dalam hidup saya.

Pilihan yang tidak mudah saat itu untuk diputuskan ketika saya harus meninggalkan keempat adik dan ayah serta kenangan bersama ibu yang sudah 7 tahun meninggalkan kami selama-lamanya. Pilihan yang tidak mudah saat itu ketika harus dengan berani dan dengan ‘lepas bebas’ meninggalkan pekerjaan, rekan kerja di sebuah RS Swasta yang sudah hampir 10 tahun dan menikmati kemapanan, dan juga bukan pilihan yang mudah ketika harus memilih pergi meninggalkan seorang pribadi yang juga ikut mendukung dalam kesulitan-kesulitan yang saya alami….

Yaa… semuanya tidaklah mudah, namun… saya tinggalkan dan lepaskan karena cinta-Nya ternyata lebih kuat dari semuanya, saya memutuskan pergi meninggalkan semuanya pada tahun 2005, pada saat itu usia saya sudah mencapai 28 tahun. Bisa dikatakan usia yang sudah cukup dewasa. Namun untuk menjadi pengikut Tuhan tidak ada kata terlambat… Tuhan sudah mengatur semuanya pada waktu yang tepat… dan kebimbangan yang paling kuat… terutama terjadi ketika harus pergi meninggalkan keluarga, sebagai anak pertama dengan 5 bersaudara dalam keluarga yang sudah ditinggalkan oleh ibu… dan sayalah seharusnya yang menjadi tumpuan hidup dan tulang punggung keluarga. “Egoiskah saya dengan pilihan ini…?” Apakah pilihan ini sudah tepat dan bijak? Lalu bagaimana dengan keluarga? Apakah mereka akan baik-baik saja saat jika saya tinggalkan…? Itulah kekhawatiran yang berkecamuk dalam hati…

Namun ternyata, peneguhan itu datang…

Tidak ada kata EGOIS untuk ikut Tuhan… Pergi dengan gembira dan lepas bebas… Tuhan akan menjaga keluargamu… PERCAYALAH…

Seketika kelegaan menyelimuti hati saya dan akhirnya proses pembinaan di Postulat dan Novisiat CB selama 3 tahun saya jalani dengan kegembiraan dan pengosongan diri serta kerendahan hati yang terus menerus….

Sering terlintas di dalam diri saya sebuah kenangan saat kecil yang membekas dalam hati ketika kebaikan dan senyum keramahan seorang suster CB saat saya bersekolah di SD dan SMP semakin memantapkan hati untuk menjadi religius CB, meskipun saya harus melewati banyak rintangan…

Waktu terus berjalan. Kekuatan cinta Tuhan terhadap panggilan khusus ini semakin diasah dan dimurnikan selama masa pembinaan dengan pengalaman cinta Tuhan yang dihadirkan dalam setiap peristiwa hidup yang dianugerahkan Tuhan terlebih saat mengemban perutusan dalam karya dan sampai akhirnya boleh diperkenankan untuk mengikrarkan kaul kekal tahun 2013.

Inilah peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan, bukan sebuah perayaan mewah dan pesta yang saya banggakan boleh mengikrarkan kaul kekal… Namun ketika saya tersungkur luruh di hadapan altar Tuhan, tak tertahankan saya meneteskan air mata….

“Tuhan..inilah saya, pakailah seturut kehendakMu”….

Bukti kasih Tuhan yang luar biasa terjawab semuanya… tak ada lagi yang perlu dibanggakan dan disombongkan ketika hidup diserahkan kepada Sang Empunya kehidupan. Saya hanyalah setitik debu yang tak berarti… Tak memiliki kehebatan apapun, rapuh dan terbatas, penuh dengan dosa namun sungguh dicintai dan dipakai-Nya sebagai penerus karya Allah… dengan mencoba setia dan gembira dan meneladan hidup Bunda Elisabeth Gruyters serta Santo Carolus Borromeus.

Kini… Tuhan semakin merentangkan sayapnya dan terus menerus mengetarkan siapapun khususnya kaum muda mudi untuk ikut terlibat akan karya Allah, Gereja sangat membutuhkan pekerja kebun anggur karena tuaian sangat berlimpah.

Demi Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas niscaya Tuhan akan melimpahkan berkatnya kepada kita. Amin.***

 

(Sr Thresmiati, CB, penulis adalah seorang bidan dan perawat di sebuah karya kesehatan)

Hatiku Bernyala-nyala Karena Cinta-Nya – Sebuah Kisah Panggilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_ID
en_US id_ID