Dokter Henry memberikan sambutan kepada para suster novis CB yang akan mengikuti materi Pertobatan Ekologis bersama Sr. Theresina CB

Pagi itu, Jumat, 1 Juli 2022, sejak pk 07.30 WIB, 15 Suster novis bersama Sr. Hetty CB, sudah menunggu Bus Trans Jogja di depan Novisiat CB, Jl. Gejayan. Mereka akan menuju ke RS Panti Nugroho, di Jl. Kaliurang, Pakem. Di sana mereka akan mengikuti pertemuan yang diadakan oleh Sr. Theresina, yang selain diutus sebagai Wakil Direktur RS Panti Nugroho, juga menjadi bagian dari anggota Kerasulan KPKC, di mana beliau akan memberikan materi tentang Pertobatan Ekologis. Ibu Morita Sari, bagian Sanitasi/Kesehatan Lingkungan RS Panti Nugroho juga akan turut menemani para Suster selama acara ini berlangsung. Pada kesempatan yang baik ini, 3 orang Suster Kongregasi OSF Sibolga turut bergabung.

Kurang lebih setelah menempuh satu jam perjalanan, mereka tiba di Halte Bus Trans, di dekat RS Panti Nugroho. Ketika tiba di lokasi pertemuan, para Suster kemudian diminta mengisi presensi, dan mereka melakukannya sambil berbaris dengan tertib, lalu kemudian duduk di tikar yang telah disediakan. Tempat para Suster berkumpul berada di bagian belakang RS Panti Nuroho, yang ternyata merupakan bagian Rumah Sakit yang memang diperuntukkan untuk melakukan gerakan-gerakan ekologis, yang terdiri dari beberapa bagian seperti Omah Ecoenzyme, Rumah Kompos, Loseda, Tempat Pilah Sampah. Di bagian samping, ada spanduk besar yang berisi Seruan Bapak Paus Fransiskus tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, atau yang sering kita sebut Laudato Si, yang dibuat dalam bentuk diagram yang menggambarkan langkah-langkah konkrit yang dapat dilakukan untuk Pertobatan Ekologis, mulai dari Doa-Doa (Rosario Earth Hour, misa Hari Bumi), Penghijauan, Pantikfoam, Gerakan Peduli Air, Gerakan Hemat Listrik, Gerakan Daur Ulang, dsb. Di sampingnya juga terlihat poster besar bertandatangankan karyawan RS Panti Nugroho yang menunjukkan komitmen/janji mereka untuk menjadikan RS Panti Nugroho menjadi Green Hospital.

Gaung gerakan ini semakin diteguhkan melalui sambutan yang diungkapkan oleh dr. Henry Widyanto, Direktur RS Panti Nugroho, yang secara khusus menyambut hangat para Suster, diselipi dengan guyonan-guyonan segar. Dokter Henry, maupun Sr. Theresina, sebenarnya belum sampai 2 tahun ditugaskan di RS Panti Nugroho. Dalam sambutannya, beliau menceritakan bagaimana memulai gerakan ini dari yang awalnya hanya tahu bahwa kita harus mengasihi alam ciptaan Tuhan ini, namun tidak tahu dan bahkan ragu akan apa yang harus dilakukan, sampai akhirnya Tuhan memampukan, memberikan semangat untuk melakukan berbagai gerakan-gerakan perawatan bumi di lingkungan RS Panti Nugroho.

Sr. Theresina kemudian langsung menyambung dengan materi utama, yaitu bagaimana kita melakukan Pertobatan Ekologis, khususnya dalam kehidupan sehari-hari yang diperolehnya dari menyarikan Ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si. Poster besar yang berisi diagram tersebut sangat membantu para Suster mengikuti penjelasan Sr. Theresina.

“Sampah saya adalah tanggung jawab saya”, kata-kata yang terucap seakan menyadarkan para peserta untuk turut ambil bagian melakukan gerakan ini. Kadang para peserta bertanya atau kadang Sr. Theresina yang balik bertanya sambil memberikan doorprize berupa jeruk, membuat suasana menjadi interaktif dan menarik. Ternyata para suster novis juga sudah banyak berupaya melakukan gerakan ini dalam pembinaan di Rumah Novisiat, misalnya ternyata mereka juga sudah mencoba membuat ecoenzyme, sehingga setelah Sr. Theresina menjelaskan cara pembuatan ecoenzyme, dengan cekatannya para Suster novis ini menimbang bahan-bahan yang diperlukan dan mencampurnya sesuai perbandingannya.

 Sambil tetap mengikuti penjelasan Sr. Theresina tentang proses pembuatan ecobrics, mereka menyantap snack yang diselimuti daun pisang – sebagai gerakan mengurangi pemakaian tissue – mereka juga menikmati mie goreng setelah mencuci tangan dengan ecoenzyme.

 

 

Di tengah acara, ternyata datang ibu Tanti yang ditemani seorang Suster Ursulin yang juga merupakan aktivis pencinta lingkungan. Kedatangan Ibu Tanti ini ternyata atas undangan Sr. Theresina yang pada kesempatan tersebut diminta untuk mengajari para Suster membuat sabun dari minyak jelantah dan ecoenzyme. Materi ini semakin melengkapi penjelasan Sr. Theresina tentang manfaat ecoenzyme. Dengan sabar ibu Tanti menjelaskan cara pembuatan, sambil mempraktekkan langsung pembuatan sabun tersebut setahap demi tahap dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan peserta. Di sela penjelasan beliau, beliau juga men-sharing-kan upaya-upaya beliau menghidupi gerakan pertobatan ekologis dalam keluarga dengan menggunakan kain-kain bekas pakaian sebagai ganti tissue. Beliau juga turut mengajarkan ini kepada teman-teman beliau, dan dengan murah hati membagikan sabun hasil jadinya kepada mereka yang belum bisa membuatnya. Beliau dengan terbuka menyediakan diri diundang para Suster untuk mengajari pembuatan sabun. Di akhir penjelasannya, dengan sabun minyak jelantah yang telah dibuat sebelumnya, beliau mencoba mencuci gelas salah satu Suster, dan semua dapat merasakan kesatnya gelas yang dicuci dengan bahan organik tersebut. Bumi sudah memberi kita banyak hal, sudah waktunya kita juga turut merawatnya, demikian beliau juga memberikan sepatah quote yang menggugah para peserta. 

Menutup pertemuan ini, para Suster Novis diajak berkeliling oleh Ibu Morita Sari, untuk melihat bagaimana upaya RS Panti Nugroho merawat bumi dengan pengelolaan sampah dan air di kompleks RS. Di bagian Rumah Kompos dan Loseda, Sr. Theresina juga memperlihatkan upaya pengelolaan sampah organik di RS Panti Nugroho, selain membuat ecoenzyme, daun-daun kering yang berjatuhan dikumpulkan dan dicacah untuk kemudian dijadikan kompos. Sedangkan pengelolaan sampah sisa dapur, seperti sisa makanan dimasukkan ke Loseda (lodong sesa dapur) yang akhirnya semua itu dapat dipanen dan dikembalikan kepada alam untuk menyuburkan tanah di kompleks RS Panti Nugroho.

Setelah santap siang, para Suster pulang lagi naik Bus Trans dengan dioleh-olehi pohon kenari kecil, dan tentu saja materi yang sudah didapatkan menjadi oleh-oleh yang sangat berharga untuk dipraktekkan dan disebarkan, sehingga gerakan mencintai bumi ini semakin meluas dan bumi semakin terawat. ***

 

Pertobatan Ekologis Para Novis CB

Leave a Reply

Your email address will not be published.

en_US