Kutemukan suasana
Rasa yang sulit dijumpai
Damai, tenteram, nyaman, indah
Bergaul
Berkumpul
Kami bercerita, kami berprakata
Memang kami berbeda
Kami yakin kami bisa bersatu
Suku, budaya, adat
Tercampur dalam satu selendang bendera
Merah
Putih
Tanpa pandang
Apa warna darahmu
Untukmu aku berdiri
Dalam sebuah harapan
Berkibar
Sang sakaku!

Bait-bait puisi Dalam Satu Bendera (karya: Diza Humaira) tersebut memukau hati para penonton yang sebagian besar adalah para pelajar di DIY. Puisi yang syarat makna ini ditulis oleh pelajar dari MA Bondowoso dan dibacakan oleh Sr. Anunsita CB. Sebuah klise bila para pelajar membacakan puisi karya para penyair terkenal. Namun, malam itu justru para tokohlah yang membacakan puisi yang ditulis oleh para pelajar. Semua diam, terpukau, mencerna bait demi bait, mengundang hati untuk tergerak mengatakan: ya, kita satu!

Bertempat di Ampiteater Taman Budaya Yogyakarta (TBY) digelar pertunjukan teater dengan tema “Di Langitku Hanya Ada 1 Bendera”. Pertunjukan yang dimulai pukul 20.30 WIB tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan Kemah Persaudaraan Anak Bangsa yang diprakarsai oleh Kelompok Lentera Anak Bangsa dan Gusdurian.

Kreasi para pelajar se-DIY tersebut diawali dengan pembacaan 8 puisi terbaik yang ditulis oleh para pelajar dan telah dilombakan beberapa waktu yang lalu. Selain Sr. Anunsita CB yang terlibat dalam pembacaan puisi, Alissa Wahid dan Inayah Wahid, kakak beradik yang adalah putri dari Gusdur pun bersedia untuk membacakan puisi ciptaan para pelajar ini. Bahkan, Inayah Wahid meluangkan waktu datang dari Jakarta khusus tuk menghadiri acara ini. Selain membacakan puisi ciptaan salah satu pelajar di DIY, Inayah pun membacakan puisi yang dibuatnya sendiri, “…Indonesia adalah aku. Indonesia adalah kamu.” Tampak beberapa tokoh pun terlibat dalam membacakan puisi yang terpilih.

Selanjutnya, penonton dihipnotis dengan penampilan teater yang sangat apik. Teater yang menggambarkan seseorang yang terbelenggu oleh berbagai macam kebobrokan dari lingkungannya hingga ia tak dapat berbuat apa-apa. Semakin banyak cara yang ia upayakan agar bisa terlepas dari belenggu tersebut tapi justru belenggu itu semakin kuat membelenggunya. Sang tokoh tak berdaya. Namun dalam ketakberdayaannya ia masih sempat menanyakan dan mengatakan kebenaran, “Hai Guru… kau mengajarkan apa pada anak-anakmu tentang sejarah? Bukankah yang kau ajarkan adalah kebohongan yang tidak boleh diketahui orang?” Akhirnya, ia dibekuk oleh orang-orang disekelilingnya dan dijauhkan dari buminya sendiri. Namun, perjuangannya tak berhenti dan mati. Masih ada tunas-tunas muda yang meneruskan perjuangannya untuk menegakkan negeri ini. Singkatnya, dengan susah payah Merah Putih itu dapat berkibar lagi di bumi ini untuk memayungi bangsa kita dari belenggu egoisme pribadi, meretas sekat-sekat perbedaan, dan mengumandangkan bahwa kita adalah satu! Sang tokoh pun berdiri tegak menghormat pada Sang Saka Merah Putih.

Demikianlah, penonton terkesima dengan penampilan M. Shodiq, Punkas Singaraska, Tatak, Putri, Gisela B, Joko, Yeccika latif, Yusuf, Andika, Steffanus Chrismas, Ceccilia Anggita, Ucok, Sentono, dan Shomat. Mereka membawa pesan bagi penonton untuk tetap mengupayakan kerukunan dalam keberagaman.

Acara ditutup dengan diumumkannya para pemenang lomba menulis puisi. Pemenang pertama adalah siswi dari SMAN 1 Yogyakarta, sedangkan SMA Stella Duce 2 Yogyakarta mendapat peringkat ke-3. Semua yang hadir merasa puas dan mereka ditantang untuk terus mengupayakan persahabatan di antara mereka. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan yang ada di sekelilingnya.

Di Langit Hanya Ada Satu Bendera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_US