Tahun suci 1576 telah dibuka di Milano. Tapi dalam musim panas tahun itu, orang mulai mendengar adanya wabah sampar yang mulai berjangkit di Italia Utara. Banyak korban mulai berjatuhan di Mantova. Penularan hanya dapat dicegah dengan menutup pintu gerbang kota rapat-rapat dan pengawasan yang teliti agar orang tidak keluar masuk kota seenaknya saat terjadinya wabah. Biasanya wabah memang menjalar pada musim panaas dari kota yang satu ke kota yang lain; dan dengan demikian dari negara ke negara. Seringkali terjadi bahwa wabah semacam itu menelan hampir 1/3 jumlah penduduk di seluruh Eropa. Pada tahun 1524 dahulu wabah semacam itu di Milano telah menelan korban sebanyak 8.000 jiwa. Betapa dahsyatnya amukan wabah sampar itu dilukiskan oleh Boccacio dalam tulisan tentang penyebarannya di kota Firence pada tahun 1348.

“Benjolan-benjolan sebesar telur asin atau buah apel di ketiak atau lekukan sendi anggota tubuh lain menandai adanya penyakit itu. Warna benjolan itu makan lama berkembang dari merah tembaga menjadi hitam. Jika penderita mulai muntah darah, itu pertanda bahwa jiwanya tak tertolong lagi. Hal itu akan terjadi pada hari ke-4. Tingginya suhu badan penderita tak tertahankan, hingga sering mereka meloncat-loncat dan berteriak dalam igauannya, hingga kehabisan tenaga dan meninggal dunia. Ada pula yang menceburkan diri ke dalam air karena tak tahan akan panas yang mengamuk dalam dirinya. Dan bagaimanapun ajal menemui penderita, selalu disertai dengan bau bangkai yang memuakkan. Bau itu mengembang memenuhi seluruh kota. Rumah-rumah yang dihampiri penyakit dahsyat itu, tentu menjadi “rumah maut” karena tak seorangpun di dalamnya dapat selamat. Dokter susah dicari, dan kalaupun ada mereka tentu menuntut bayaran yang tinggi. Bahaya penularan mencegah untuk segera menuntut bayaran yang tinggi. Bahaya penularan mencegah orang untuk segera menguburkan mereka yang meninggal, hingga pernah jenazah menumpuk di jalanan, sampai ada orang yang memiliki gerobak dorong terpaksa membuangnya ke luar kota. Kuburan massal akhirnya merupakan satu-satunya jalan penyelesaian.”

Dalam bulan Juli itu, Gubernur telah memerintahkan untuk menutup semua pintu gerbang ke kota Milano, walaupun bahaya yang mengancam masih terasa agak jauh. Penutupan kota itu dirasa menjadi hambatan dalam merayakan tahun suci, karena orang-orang dari luar kota tidak dapat ikut merayakannya tanpa memenuhi syarat-syarat peziarahan ke beberapa gedung gereja yang terpilih. Kota Milano menjadi sepi.

Sekonyong-konyong datang kabar bahwa Don Juan dari Austria, seorang pemuda gagah pahlawan dari Lepanto, idola para remaja di waktu itu, akan melewati Kota Milano dalam perjalanannya ke daerah Vlaanderen menyongsong tugasnya yang baru. Terungkap pula keinginan pahlawan itu untuk melewatkan beberapa hari di kota Milano. Persiapan besar-besaran dilakukan oleh penduduk kota.

Pangeran makin mendekat ke gerbang kota, penyambutan telah siap. Namun, ketika pintu gerbang dibuka dengan penuh getaran ria di antara penduduk kota Milano, merembes pula suara bisikan di jalan-jalan “ada suatu kasus sampar di dalam kota!”. Gemuruh pesta yang riang ria mendadak sirna. Don Juan, tamu agung yang lama dinanti menjadi gelisah dan dengan cepat melewati kota itu, tak ada perhatian pada jalanan yang telah dihias dengan indah, perhatian hanya terpusat pada usaha menyelamatkan diri. Gubernur, para pejabat pemerintahan, mereka yang kaya, cepat-cepat menyingkir ke vila-vila mereka di luar kota. Tapi… di manakah gerangan Sang Uskup Agung (Carolus Borromeus) berada?

Ketika persiapan penyambutan sedang berlansung, Carlo (nama kecil Carolus Borromeus) mendapat kabar bahwa uskup dari Lodi sedang menghadapi sakratul maut. Walaupun ia langsung berangkat ketika itu, kedatangannya tetap terlambat, hingga hanya tersisa baginya, kesempatan untuk memimpin upacara pemakaman saja. Ketika Carlo sedang sibuk di sakristi seusai upacara pemakaman itu, didengarnya kabar tentang apa yang terjadi di Milano. Ia menjadi tidak tenang lagi dan langsung berangkat pula. Syukurlah! Kehadiran Uskup Agung dalam kota memang memberikan rasa tenang pada berbagai pihak.

Carlo merasa juga bahwa suasana yang nampak biasa-biasa saja seperti tak ada sesuatu apa yang sedang terjadi, demikian pula sikap acuh tak acuh mereka yang tak mempunyai vila di luar kota, terhadap bahaya yang sedang mengancam adalah semu belaka. Ia tahu bahwa wabah akan menjalar bagaikan api yang ganas dalam waktu beberapa minggu mendatang.

Sesampai di rumah, ia mulai dengan membaca buku-buku tentang kesehatan yang dimilikinya dan memesan beberapa buku lainnya. Mencari ingormasi sebanyak-banyaknya di antara para tabib kenalannya tentang penyakit yang sedang mengganas itu. Kemudian ia berkeliling untuk memantau kadaan.

Sementara itu, sebuah bangsal tua Lazaret St. Gregorius, yang terletak di dekat pintu gerbang Venetia, sebuah bangunan dari abad ke-15, mulai disiapkan untuk menampung korban-korban yang pertama. Bangunan itu terbentuk oleh empat buah serambi yang berdiri mengelilingi suatu tempat terbuka, di tengah-tengahnya terdapat sebuah kapela. Gedung itu cukup untuk menampung 800 orang penderita. Mula-mula banyak orang yang bersedia untuk turut serta merawat para penderita yang akan ditampung di situ, bukan karena kerelaan untuk menolong, tapi karena adanya kemungkinan menarik keuntungan dari “usaha sosial yang besar” itu dan dalam waktu yang singkat. Lazaret itu telah menjadi “neraka penderitaan”.

Sesampai di muka Lazaret, Carlo ditolak. Pengurus usaha darurat itu segera tahu, bahwa keuntungan yang akan mereka keruk dari musibah itu tentu akan lenyap jika Uskup Agung mulai mencampur tangan ke dalamnya. Demikian pula pemerintah daerah mula-mula tidak memberi ijin kepadanya untuk ikut serta dalam usaha itu. Mereka lebih senang apabila Gereja hanya membatasi diri dalam gedungnya saja dengan upacara-upacaranya, tidak perlu turut campur dalam bidang sosial, yang akan memperluas kekuasaan mereka saja.

Cara berpilir seperti itu tetap saja menguasai banyak orang. Kendatipun ketika keadaan sangat mendesak, dan mereka terpaksa membiarkan campur tangan Uskup Agung itu, usaha-usaha penolakan tetap saja dilakukan, baik dalam bentuk ejekan, gangguan, dakwaan-dakwaan palsu maupun protes secara terang-terangan. Prosesi silih yang diorganisir oleh Uskup Agung, yang oleh para cendekiawan tak dianggap mengandung bahaya atau keberatan apapun, oleh para pejabat pemerintah tetap dipandang dengan lirikan mengejek, bahkan digunakan untuk menjatuhkan nama pemrakarsanya oleh gubernur di kemudian hari.

Betapa dalamya kesadaran akan kedosaan di hadapan Tuhan telah terungkap dalam prosesi. Dan ternyata prosesi silih itu sangat mengesan pada diri umat di Milano. Berkali-kali peritiwa itu diabadikan baik dalam lukisan maupun tulisan yang terpampang dalam berbagai gereja, museum dan kumpulan-kumpulan karya seni. Bahkan lama setelah Carlo meninggal, orang masih saja mengenang peristiwa besar itu dalam karya seni mereka.

Prosesi itu didahului oleh Uskup Agung yang berbusana jubah berwarna gelap, tanpa alas kaki dan tudung kepada, tanda merendahkan diri, sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah salib kayu yang berat. Orang-orang ikut dari belakang dalam jarak yang cukup lebar untuk menyatakan hormat merea. Dan dalam doa-doa yang khusus, permohonan belas kasihan kepada Tuhan, arak-arakan itu bergerak dari Gereja Utama ke salah satu gereja yang dipilih, tiga kali dalam seminggu. Salib yang digunakan itu sampai sekarang masih disimpan di Gereja Utama, diletakkan di sebelah kiri altar samping ketiga. Salib itu menjadi lambang penderitaan mendalam yang pernah menimpa penduduk, tapi sekaligus menjadi sumber kekuatan mereka untuk menanggung penderitaan itu dengan tawakal.

Mula-mula Uskup Agung mengundang seorang pastor Kapusin, Fra Paola Bellinzano, untuk membantu di Lazaret bersama para imam Kapusin lainnya. Pastor yang bertubuh kecil itu memang terkendal dalam kemahirannya merawat penyakit sampar. Beliau datang pada awal penyebaran wabah itu, dan tinggal di Milano selama hampir 1 tahun, sampai bahaya yang paling besar lewat.

Sementara itu Carlo mengajak para imamnya untuk turut serta menanggulangi wabah itu dengan merawat mereka yang menderita. Ia sendiri juga bekerja dengan tak kenal lelah. Kalau ada rumah yang pintunya disegel dari luar sebagai tanda bahwa di dalamnya ada penderita, maka mereka masuk lewat jendela agar dapat mencapai yang sakit. Kalau terdengar suara anak-anak menangis dalam sebuah rumah, menandakan adanya ayah atau ibu yang sakit, bahkan mungkin sudah meninggal, maka salah satu dari para penolong itu memanjat jendela masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan anak-anak itu.

Lonceng gereja-gereja berdentang 7 kali semalam untuk mengajak umat berdoa secara khusus. Waktu pemerintah daerah memperketat aturan pengasingan bagi mereka yang diperkirakan membawa penularan, sehingga orang-orang tidak lagi dapat pergi ke gereja, Carlo menyuruh orang membangun altar-altar di tempat-tempat yang strategis dalam kota, sedemikian hingga orang-orang dapat mengikuti persembahan Misa Kudus lewat jendela-jendela rumah masing-masing. Dengan demikian maka ia menjadikan seluruh kota Milano sebuah gereja yang besar. Baru lepas tengah malam Carlo mendapatkan waktu luang bagi dirinya sendiri, dan menggunakannya untuk berdoa di hadapan Dia yang dikasihinya dalam kesendirian. Carlo menjadi makin ketat juga dalam mati raganya. Cinta dan keprihatinannya bagi sesama itu mengembang tak terbatas.

Dengan cepat, ternyata bahwa gedung Lazaret tua itu tak mampu lagi menampung penderita yang datang, karena banyaknya. Maka orang-orang membangun lagi beberapa tempat penampungan di pinggiran kota. Karena betapapun kejamnya pengasingan itu, ternyata masih lebih baik daripada membiarkan penderita tinggal di rumah. Maka dengan demikian kampung di pinggiran kota itu berubah menjadi Lazaret-Lazaret yang mengerikan.

Walaupun imam-imam yang menggabungkan diri dalam usaha pertolongan itu menjadi makin banyak juga, namun dirasa masih kurang, apalagi Carlo segera melihat para imam parokunya kebanyakan kurang berani dalam menjalankan tugas yang menuntut pengorbanan besar itu. Maka ditulisnya surat-surat panggilan kepada siapapun yang mau membantu. Sura-surat itu hingga kini masih terseimpan dalam arsip.

Memang orang cenderung merasa lebih aman untuk mengurung diri di rumah dalam keadaan seperti itu. Tapi anehnya, korban kematian justru lebih banyak jatuh di antara orang yang tinggal diam di rumah daripada di antara mereka yang aktif menolong.

Cara pencegahan penularan yang digunakan pada waktu itu juga masih sangat primitif. Setiap kali orang meraba penderita, maka mereka membakar jari-jari tangan mereka pada nyala sebuah lilin sebentar, dan pakaian yang tercemar segera ditinggalkan dn dibakar.

Akhirnya wabah mulai surut pada akhir tahun 1577, dan pada tahun 1578 aturan-aturan pengasingan ditiadakan. Pada waktu itu diperkirakan bahwa sampar menelan korban 17.000 jiwa di dalam kota Milano dan 8.000 orang di daerah sekitarnya.

Betapa dahsyatnya penderitaan waktu itu tak terlukiskan. Namun kali itu jelas pula bahwa tidak banyak orang yang meninggal dalam kesepian, dan kehinaan, tanpa komuni atau sakramen yang terakhir. Kendatipun wabah yang mengerikan ebrkobar, namun orang meninggal dalam keutuhan iman yang sejati.

Sejak semula Carlo sadar, bahwa ada kemungkinan besar ia akan ditimpa penularan penyakit yang ganas itu, maka pada bulan September 1576 ia menyususn surat wasiat.

Penderitaan rakyat di Milano memang nampak lebih kentara selama wabah mengganas, namun itu tidak berarti bahwa sebelumnya mereka tidak menderita. Demikian pula perhatian Carlo terhadap orang atau keluarga yang menderita tidak timbul untuk pertama kalinya pada saat itu. Carlo kenal betul akan penderitaan rakyatnya dan setiap saat berusaha mencari jalan penyelesaian.

 

 

Abad ke-15 dan 16 memang membawa perubahan-perubahan besar tidak hanya dalam bidang seni, budaya dan ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih-lebih juga dalam hidup ekonomi di benua itu. Pergeseran-pergeseran kekuasaan menyebabkan kaum bangsawan dan para pejabat pemerintahan mendapat hak-hak istimewa yang cukup besar, sehingga kekayaan harta mereka cepat sekali meningkat.

Dalam ketamakannya “kaum atasan”itu menggunakan harta mereka untuk turut bertarung dalam gunia perdagangan, sehingga pengaruh gilde-gilede, yaitu sejenis koperasi usaha yang menjadi perlindungan dan tumpuan usaha pengrajin, tukang dan buruh kecil sejak abad-abad yang lalu, tergeser karenanya. Inilah saat awal dari sistem ekonomi kapitalisme, yaitu suatu sistem yang digerakkan oleh pertarungan modal.

Melemahnya kekuatan gilde-gilde itu mengakibatkan orang-orang “kelas ketiga”, yaitu mereka yang tidak bermodal lain, kecuali ketrampilan atau kekuatan fisik yang ada padanya, kehilangan “tempat berteduh” Mereka menjadi tak berdaya, mudah diombang-ambingkan dalam persaingan ekonomi yang tak seimbang itu, hingga banyak di antara mereka bangkrut atau tersisih menjadi penganggur. Hal itu tidak hanya terjadi di kalangan rakyat banyak saja, tapi banyak juga kaum bangsawan yang kurag mampu bertarung dalam dunia yang bergolak itu, jatuh miskin dirongrong kekuatan ekonomi yang baru berkembang.

Di samping itu, pola kesejahteraan sosial pada waktu itu belum dikenal sebagai tanggungjawab pemerintah dalam penyelenggaraannya. Maka, penindasarn, penyalahgunaan wewenang dapat merajalela tanpa kendali. Pengerahan tenaga kerja anak-anak dan wanita dalam kerja kasar dan berat merupakan gejala umum. Demikian pula menghebatnya sistem riba yang menelan korban besar-besaran di antara mereka yang lemah. Memang patut diakui bahwa di antara mereka yang makmur banyak juga yang berhati emas, mereka itu bersedia mengulurkan tangan untuk menolong yang papa, berdasarkan hati nurani kristiani mereka. Maka dengan demikian, bagi mereka yang miskin hanya tersedia 2 kemungkinan, yaitu: hidup dalam belas kasihan mereka yang punya, atau hancur tergilas perrtarungan hidup di masyarakat.

Ada beberapa orang yang mengerti akan seluk beluk kehidupan masyarakat yang menyedihkan itu, dan berusaha untuk melawan atau menahan arusnya. Baik dengan tulisan, pembicaraan maupun dengan usaha-usaha nyata. Tapi mereka tetap merupakan golongan minoritas yang sering kurang berarti.

Uskup Agung Milano dapat juga digolongkan pada kelompok kecil itu. Banyak usahanya dalam hal itu, yang kadang-kadang juga berhasil. Misalnya pendirian kolese-kolese di mana-mana. Cita-cita dari pendirian itu adalah terbentuknya sikap terbuka dan adil terhadap sesama manusia dalam diri masing-masing siswa, agar dengan demikian mereka kelak dapat mengusahakannya dalam hidup bermasyarakat. Sebagian besar siswa kolese itu memang berasal dari keluarga-keluarga yang terikat pada hak-hak istimewa mereka sendiri (kaum bangsawan dan pejabat pemerintahan), sehingga mereka hanya mampu mempertahankan hak keadilan dalam lingkungan yang terbatas saja. Maka sukar diharapkan dari mereka pemahaman terhadap kebutuhan orang yang tertindas ,apalagi memperjuangkannya. Tetapi mereka yang muda masih dapat berubah dan diarahkan.

Carlo sendiri pernah merasakan apa yang disebut kekurangan. Ketika ia belajar di Pacia, keuangannya selalu “mepet” akibat kemurahan ayahnya kepada mereka yang miskin. Kekurangan uang yang terus menerus itu mengakibatkan kurangnya pakaian. Apalagi di musim dingin, alas tempat tidur yang compang-samping, pelayan yang selalu menggerutu, sura-surat permohonantambahan uang yant tak terjawab, memang pahit dirasakan. Pengalaman itu telah mendorongnya pula untuk mendirikan kolese di Pavia, semasa ia masih berada di Roma dahulu. Suatu kolese yang terutama diperuntukkan para putera bangsawan yang jatuh miskin.

Kolese Borromeo yang didirikan di Pavia itu hingga sekarang masih ada. Kini digunakan untuk suatu bagian dari universitas negeri. Bangunannya bertingkat dua, bagus dan megah, sekarang memang nampak tua, tapi dipelihara dengan baik. Kenangan terhadap St. Carolus di situ diabadikan oleh perisai bergambar lambang “Humilitas” dan topi kardinalnya yang terpancang menjulang di bubungan atapnya. Demikian pula tiang-tiang penyangga dari tingkat bawah dihias dengan pahatan lambang itu. Pada tahun 1573 Milano mendapat kolese yang sama dengan Pavia.

Memeng di Milano Carlo juga disibukkan dengan segala macam usaha menanggulangi kemiskinan sesama, dengan segala akibatnya. Banyak yang telah dilakukannya. Kecerdikannya mencari jalan ke luar galam menghadapi masalah dan sifat demrmawannya hampir tak terhingga. Ia selalu merasa kekurangan dana untuk membantu. Kada-kadang teringat olehnya sumber-sumber kekayaannya dilu di Roma yang telah ia lepaskan. Kini dalam keadaan mendesak, dia sering bergumam “Ah, andaikan aku masih punya biara-biara dan prebende itu, tentu aku dapat membantu lebih banyak!”

Wabah sampar telah menelan banyak korban. Orang-orang dewasa yang menjadi korban banyak yang meninggalkan anak-anak yatim piatu. Jalan-jalan dipenuhi gelandangan-gelandangan cilik itu. Carlo berusaha menampung mereka dalam panti-panti asuan tersendiri. Pada tahun 1577 dibukanya “Consercatioria de Santa Sofia”, suatu sekolah kepandaian putri bagi gadis-gadis berumur 10-15 tahun yang mendidik mereka dalam ketrampilan keputrian dan menyiapkannya bagi masa depan. Sekolah itu dipimpin oleh beberapa orang suster Ursulin anggota suatu tarekat yang baru didirikan oleh Angela de Merici di negeri itu.

 

Waktu wabah sampar sedang mengganas dahulu, Carlo mengumpulkan bayi-bayi yang ditinggalkan ibunya dalam sebuah rumah perawatan yang dilengkapi antara lain dengan sekandang kambing sebagai sumber minuman orok-orok itu.

Di Milano memang sudah ada beberapa rumah penampungan wanita tuna susila, namun pada taun 1579, ketika keadaan menjadi lebih mendesak, Carlo mendirikan sebuah rumah lagi, yang terbuka bagi mereka yang malang itu. Ketika seorang wanita yang bernama Isabella d’Aragona membuka rumahnya bagi wanita-wanita malang yang gagal dalam perkawinan mereka, Uskup Agung mendukung dan memberkati usaha itu sepenuh hati.

Carlo juga memugar sebuah gedung tua yang cukup luas di pinggiran kota bagi para pengemis yang jumlahnya meningkat secara mengerikan akibat wabah sampar yang baru lalu. Ia menyerahkan pemeliharaan orang-orang yang menderita itu kepada para suster Benedictines yang berdiam di daerah itu.

Carlo telah menggerakan suatu usaha bantuan bahan makanan di musim yang sulit. Usaha itu dimulai ketika pada tahun 1570 terjadi “paceklik” di musim dingin akibat kegagalan panen. Pada waktu itu ia mengelenggarakan dapur umum di Istana keuskupannya dan pemimpin rumah tangganya mengatur pembagian makanan itu. Setiap hari tersedia di istana uskup berketel-ketel besar makanan panas bagi mereka yang memerlukan. Ketika persediaan bahan mulai menipis, Carlo mengadakan aksi pengumpulan bahan secara besar-besaran di antara keluarga dan handai taulan yang baik hati, bahwan juga bahwa bagi setiap orang, mencari nafkah sendiri itu lebih baik daripada diberi orang lain. Maka ia mulai membangun seminarinya dalam musim dingin itu agar banyak orang mendapat kesempatan kerja.

Puncak penderitaan terjadi dalam musim dingin tahun 1576/1577. Sesai berkecamuknya wabah sampar di Milano yang menelan beribu-ribu korban dan melumpuhkan usaha-usaha di dalamnya. Pengusaha-pengusaha besar kecil banyak yang meninggal, demikian pula tukang-tukang atau pengrajin yang ahli. Di mana-mana baik dalam rumah-rumah orang biasa, maupun ke dalam puri-puri bangsawan, kemiskinan datang menjelan. Sebaign besar tanah pertanian tak diusahakan karena kekurangan tenaga, dan kegagalan panen terjadi lagi.

Panjangnya iring-iringan orang yang membanjiri istana keuskupan sangat mengerikan. Mereka berpakaian compang-camping, tanpa alas kaki, kurus kering dengan mata sayu tak memancarkan harapan hidup. Dengan prihatin Carlo memandang mereka itu. Kenalan-kenalannya, umatnya, sesamanya. Dan itu semua terjadi dalam kedinginan musim salju.

Menghadapi itu semua, sifat kedermawanan Carlo yang bersedia untuk memberikan apapun yang dipunyainya muncul dan berkobar. Yang paling diperlukan saat itu adalah pakaian, untuk melindungi badan dari amukan musim dingin menggigit tulang. Maka apa saja yang dapat digunakan untuk menutup tubuh dibagi-bagikan. Tira-tirai pintu dan jendela, alas-alas meja dan tempat tidur, bahkan juga persediaan bahan baju, bahan-bahan pakaian yang tersimpan juga dikeluarkan dan dibagikan kepada mereka yang datang. Kain lena berwarna ungu, kain-kain brokat juga ikut digunakan oleh penduduk sekitar. Sampai lama setelah itu di kampung-kampung dan desa sekitar masih terlihat “Warna Uskup” membalut tubuh penduduk dalam kenangan penuh rasa terima kasih.

Sementara itu aksi “pembagia pangan” juga mulai aktif lagi. Dari pagi sampai petang hari di istana uskup tersedia makanan bagi 3.000 orang atau lebih.

Usaha Carlo itu menghidupkan keunginan untuk membantu pada banyak orang. Sehingga aksi pengumpulan bahan pangannya kali itu mendapat sambutan yang sangat baik di mana-mana. Kota Pavia misalnya, mengirimkan 60 karung jagung dan 200 karung gandum. Para pejabat negarapun tergerak hatinya untuk turut serta membantu secara aktif, mereka menyumbangkan bahan makanan untuk 50.000 orang dalam minggu-minggu pertama aksi itu.

 

(diambil dari Kisah Carolus Putera Borromeus, hal. 75-84)

Dalam Derita Wabah Sampar dan Kemiskinan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_ID
en_US id_ID