Beberapa Suster mungkin pernah mendengar cerita, bahkan mungkin mengalami pelayanan Kerasulan Komunitas Tanjung Priok.

Berdasarkan Keputusan Kapitel Tahun 2017 tentang Pelayanan Kerasulan, disebutkan bahwa “Dewan Pimpinan Provinsi bersama para pimpinan komunitas dan pimpinan karya melakukan reorientasi karya dan mengembangkan berbagai kemungkinan karya alternatif bagi mereka yang tersingkir atau yang berada di “pinggiran”.” Berdasarkan keputusan tersebut, berbagai hal perlu dipertimbangkan, diantaranya menutup/melakukan reorientasi karya kerasulan Klinik St. Yosef dan RSIA St. Yusuf dan Biara Tanjung Priok, Jakarta.

 

Sejarah Komunitas Tanjung Priok

Kebutuhan akan layanan kesehatan di daerah Tanjung Priok ini dimulai sejak tahun 1952, atas permintaan Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius Tanjung, Pastor Leo Zwaas SJ, pada tahun 1952. Namun permintaan tersebut baru terwujud pada tahun 1958, ketika pimpinan RS St. Carolus, mengirimkan 2 orang bidan untuk mengawalinya. Pada 1959, barulah berdiri di Jl. Ganggeng tersebut Klinik Bersalin St. Yusuf berkapasitas 10 tempat tidur. Karena permintaan pastor paroki Pastor Broos SJ, pada 1966 akhirnya kongregasi mengirimkan Sr. Iris Groot dan Sr. Bellina Timmers mengawali biara sederhana, pada 4 November 1966.

 

 

 

Sr. Bellina Timmers

Para suster yang pernah menjadi Piko di Komunitas St. Yosef Tanjung Priok Jakarta, diantaranya seperti Sr. Marie Josephus (1969-1976), Sr. Victoriana Saragih (1976), Sr. Euginio (1977-1983), Sr. Martinio Suwasti (1983-87), Sr. Marie Consolata (1987-88), Sr. Ursina Sunaryati (1988-94), Sr. Hedwiga Harianja (1994-2001).

Sedangkan para suster yang pernah tinggal dan berkarya di komunitas tersebut antara lain: Sr. Imma Rumanti, Sr. Miryam Dalinah, Sr. Celeste Soedilah, Sr. Joseta, Sr. M. Johana, Sr. Cecila Riyanti, Sr. Yulita Mursamsilah, Sr. Anita T. Bataona, Sr. Irene Surya, Sr. Magdalenia, Sr. Cahyari, Sr. Marintan, Sr. Heronima, Sr. Theofani, Sr. Sesiliana, Sr. Rosalia, Sr. Patromana, Sr. Berta, Sr. M. Stefani, Sr. Engeltrudis, Sr. Hermana, Sr. Adelaida, Sr. Paulina, Sr. Felisitas, Sr. Sintha Bataona,dan terakhir, Sr. Irmina Sri Supranti Hardaningsih bersama Sr.Elise Sugiarsi.

Pada 1 September 2015, komunitas ini menjadi filial dari Komunitas Sint Carolus, Jakarta.

 

 

Sr. Iris Groot
Sr. Sabina Smith

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut adalah foto-foto saat Perayaan Ekaristi Penutupan Biara Priok, tanggal 30 September 2019.

Sr. Elise dan Sr. Irmina menerima ungkapan terima kasih
Suasana Perayaan Ekaristi Penutupan Biara Priok bersama manajemen, karyawan dan para suster

 

Pada 16 September 2019, DPP bertemu dengan Romo Paroki, untuk pamit.

 

Pada 6 Mei 2019, sebelumnya pihak manajemen telah melakukan sosialisasi dengan karyawan untuk tetap meneruskan karya di RS St. Yusuf Tanjung Priok bersama dengan pihak lain. Bapak Danny Nugroho (pemilik Bank Capital) dari PT. Indonesia Nusa Indah, beliaulah yang akan melanjutkan keberlangsungan karya ini.

 

“Sementara itu sudah banyak terjadi pergantian atau perpindahan suster-suster. Hambatan-hambatan masih ada juga dan sampai sekarang pun keadaannya belum dapat dikatakan lancar.” (EG 158)

Sama seperti kisah Bunda Elisabeth, beliau pun mengalami pasang surutnya kehidupan karya kerasulan dalam biara, namun kiranya apa yang sudah diupayakan di tempat ini tetap akan menjadi bagian dari perjalanan Kongregasi dalam upayanya melayani dan menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di tempat ini.  

“Dimuliakanlah Nama Tuhan selama-lamanya. Amin.”

  

BeritaCB: Sekilas Foto Penutupan Komunitas Tanjung Priok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *